MANAMA – Iran melancarkan rentetan serangan pesawat nirawak (drone) yang menyasar sejumlah instalasi minyak di negara-negara Teluk pada Senin, 9 Maret 2026. Serangan ini merupakan balasan atas pengeboman yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap fasilitas energi Iran sejak pekan lalu.

Salah satu target utama adalah kilang minyak Al Ma'ameer di Bahrain yang mengalami kebakaran dan kerusakan serius akibat hantaman drone. Merespons kondisi tersebut, perusahaan energi negara Bahrain, Bapco, resmi menyatakan status force majeure atas seluruh operasional grupnya yang terdampak konflik.

Langkah Bahrain ini mengikuti jejak Qatar dan Kuwait yang telah lebih dulu mengaktifkan klausul hukum serupa akibat gangguan pasokan energi. Situasi ini memicu lonjakan harga minyak dunia seiring kekhawatiran global terhadap stabilitas rantai pasok energi dari kawasan Timur Tengah.

Selain infrastruktur, serangan Iran juga menghantam Pulau Sitra di Bahrain dan melukai sedikitnya 32 warga negara setempat. Korban luka mencakup warga sipil, termasuk seorang remaja putri yang mengalami cedera kepala parah serta seorang bayi berusia dua bulan.

Di sisi lain, AS telah memerintahkan staf kedutaannya untuk segera meninggalkan Arab Saudi menyusul risiko keselamatan yang meningkat. Sebelumnya, sejumlah misi diplomatik AS di Riyadh, Kuwait, dan Uni Emirat Arab juga melaporkan kerusakan akibat serangan drone.

Hingga saat ini, total 21 orang dilaporkan tewas di kawasan Teluk, termasuk sepuluh warga sipil dan tujuh tentara AS. Rentetan ledakan juga terus terdengar di ibu kota Doha, Qatar, serta wilayah Arab Saudi dan Uni Emirat Arab di tengah ketegangan yang kian memuncak.