TEHERAN – Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan udara besar-besaran yang menyasar lima fasilitas minyak di sekitar ibu kota Iran, Teheran, dan sejumlah wilayah strategis lainnya pada Minggu, 8 Maret 2026. Serangan terkoordinasi yang menghantam infrastruktur energi vital tersebut memicu ledakan hebat hingga mengakibatkan puluhan korban jiwa serta luka-luka di beberapa kota.
Di kota Karaj, Provinsi Alborz, kantor berita Tasnim melaporkan serangan terhadap depot minyak Fardis telah menewaskan sedikitnya enam orang dan melukai 21 lainnya. Korban dilaporkan meliputi pekerja fasilitas serta penduduk yang tinggal di pemukiman sekitar lokasi ledakan.
Kondisi lebih mematikan terjadi di Najafabad, Iran tengah, setelah dua rudal menghantam wilayah tersebut secara beruntun. Berdasarkan laporan Aljazeera, sebanyak 20 orang tewas dan 50 lainnya luka-luka setelah rudal kedua menghantam lokasi yang sama saat warga dan petugas penyelamat sedang mengevakuasi korban dari ledakan pertama.
CEO Perusahaan Distribusi Produk Minyak Nasional Iran, Keramat Veyskarami, mengonfirmasi empat personelnya, termasuk dua pengemudi truk tangki, tewas dalam serangan di Teheran dan Alborz. "Fasilitas infrastruktur energi mengalami kerusakan, tetapi api berhasil dikendalikan," ujar Veyskarami kepada televisi pemerintah sebagaimana dilansir AFP.
Meski asap hitam pekat menyelimuti langit Teheran dan bau terbakar tercium di seluruh kota, Veyskarami mengklaim cadangan bensin nasional masih dalam kondisi mencukupi. Saat ini, otoritas setempat masih terus melakukan pendataan terkait total kerugian dan jumlah korban akibat agresi udara tersebut.