Warga Binaan Wanita Lapas Luwuk Diberi Keterampilan, Hasilnya Olahan Bernilai Jual
Lapas Kelas IIB Luwuk dorong kemandirian ekonomi narapidana lewat inovasi pengolahan pangan bernilai tambah.
Warga binaan wanita Lapas Kelas IIB Luwuk didampingi petugas Subseksi Kegiatan Kerja saat melakukan pengolahan nasi atau beras menjadi kerupuk, Senin (28/9)
LUWUK — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Luwuk terus memacu pembinaan kemandirian bagi warga binaan melalui berbagai kegiatan produktif berbasis ekonomi kreatif. Salah satu inovasi yang tengah dikembangkan yakni pemanfaatan olahan nasi atau beras menjadi produk kerupuk bernilai jual yang dikerjakan oleh lima orang warga binaan dari blok wanita, Senin (28/9/2026).
Kegiatan ini menjadi wujud nyata pemanfaatan bahan pangan sederhana agar memiliki nilai tambah. Didampingi petugas Subseksi Kegiatan Kerja Lapas Luwuk, para warga binaan dibekali keterampilan mengenai proses produksi, kebersihan, ketelitian, hingga pengemasan produk sebagai bekal wirausaha setelah bebas kelak.
Dalam proses pembuatannya, olahan nasi atau beras diproses melalui beberapa tahapan hingga membentuk adonan kerupuk, dibentuk, dikeringkan di bawah terik matahari, hingga siap digoreng dan dipasarkan.
Salah seorang warga binaan yang terlibat, Irawati, mengaku bersyukur mendapatkan pelatihan keterampilan praktis tersebut.
"Awalnya kami tidak menyangka nasi atau beras bisa diolah menjadi kerupuk yang memiliki nilai jual. Di sini kami belajar dari proses membuat sampai mengolahnya menjadi produk. Semoga keterampilan ini nantinya bisa kami manfaatkan setelah bebas dan menjadi modal untuk membuka usaha," ujar Irawati.
Kepala Subseksi Kegiatan Kerja Lapas Luwuk, Heru Cahyono, menjelaskan bahwa program pembinaan dirancang agar menghasilkan produk yang responsif pasar dan mudah dipraktikkan secara mandiri.
"Kami berupaya agar kegiatan pembinaan kemandirian tidak hanya memberikan keterampilan, tetapi juga menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi. Pemanfaatan nasi atau beras menjadi kerupuk merupakan salah satu inovasi sederhana yang dapat dikembangkan dan diharapkan menjadi bekal bagi warga binaan ketika kembali ke masyarakat," jelas Heru.
Dukungan serupa disampaikan Kepala Kantor Wilayah Ditjen Pemasyarakatan Sulawesi Tengah, Herman Mulawarman. Pihaknya mengapresiasi konsistensi Lapas Luwuk dalam mengasah potensi narapidana melalui kegiatan berdampak nyata.
"Pembinaan kemandirian harus mampu memberikan keterampilan yang nyata dan bermanfaat bagi warga binaan. Kegiatan seperti pengolahan bahan pangan menjadi produk bernilai ekonomi merupakan bagian dari proses mempersiapkan mereka agar memiliki bekal keterampilan dan kemandirian ketika kembali ke masyarakat," ungkap Herman.
Melalui program kemandirian yang berkelanjutan, Lapas Kelas IIB Luwuk berkomitmen membuka ruang kreativitas bagi warga binaan agar siap bertransformasi menjadi individu yang mandiri dan produktif usai menyelesaikan masa pidana.
Artikel Terkait
Pilihan Untukmu