Jakarta - Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyoroti dampak perkembangan kecerdasan buatan (AI) terhadap dunia kerja. Ia mengutip laporan Future of Jobs Report dari World Economic Forum (WEF) yang memperkirakan 92 juta pekerjaan akan hilang pada 2030.

Di sisi lain, akan muncul juga sekitar 170 juta jenis pekerjaan baru. Dalam laporan WEF, disebutkan kondisi ini didorong oleh perkembangan teknologi, transisi hijau, serta perubahan ekonomi dan demografi,

Yassierli mengatakan, perubahan kebutuhan tenaga kerja sudah mulai terlihat di berbagai negara. Saat berkunjung ke India, ia mendapat informasi bahwa perekrutan talenta digital dan AI meningkat 11% dalam setahun terakhir, sementara perekrutan pekerja kantoran justru turun 9%.

"Terjadi peningkatan rekrutmen digital dan AI talent sebesar 11%. Sedangkan rekrutmen yang sifatnya general white collar, kerja-kerja kantor turun 9%. Ini di India. Jadi ini memang menjadi sebuah hal yang luar biasa. Ada sebuah research dari World Economic Forum, future of jobs report, tahun 2030 170 juta pekerjaan baru muncul dan 92 juta pekerjaan hilang," ungkap dia dalam Pameran Job Fair AI Career Boost Today 2026 di Kantor Kemnaker, Jakarta, Selasa (28/7/2026).

Bahkan ada laporan yang menyebut 50% pekerjaan saat ini akan berubah dalam 10 tahun ke depan. Hal itu menjadi tantangan bagi Kementerian Ketenagakerjaan yang kini menyiapkan tata kelola AI serta memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak.

"Ada report yang lain, 50% apa yang ada saat ini di dunia kerja, menjadi tidak relevan dalam 10 tahun yang akan datang. Ini adalah tantangan-tantangan kita, kami sedang menyiapkan tata kelola AI, apa apa yang kira-kira terkait dengan ketenagakerjaan. Dua, kita membangun kolaborasi dengan semua pihak," sebut Yassierli.

Ia lalu mengutip data LinkedIn yang menunjukkan permintaan tenaga kerja dengan keterampilan digital dan AI di Asia Tenggara meningkat 2,4 kali lipat pada periode 2021-2023. Ia meyakini angkanya kini jauh lebih tinggi.

"Ada data dari LinkedIn, permintaan terhadap para pekerja dengan skill digital dan AI di Asia Tenggara meningkat 2,4 kali lipat. Ini tahun 2021-2023, sekarang 2026. Feeling saya meningkatnya jadi udah 5 kali lipat," ujarnya.

Yassierli menilai kemampuan menggunakan AI kini menjadi nilai tambah dalam proses rekrutmen. Ia berpendapat keterampilan tersebut tidak hanya dibutuhkan oleh lulusan teknologi informasi melainkan dapat dipelajari oleh siapa saja.

Meski demikian, Yassierli menekankan penguasaan AI harus diimbangi dengan kemampuan nonteknis. Misalnya, skill komunikasi, kerja sama tim, berpikir kritis, pemecahan masalah, empati, dan kemampuan mengambil keputusan.