WASHINGTON – Gelombang penolakan terhadap kepemimpinan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kian menguat. Mayoritas pemilih terdaftar dilaporkan setuju jika Trump dimakzulkan dari jabatannya.

Berdasarkan laporan Newsweek yang diterbitkan pada Rabu, 8 April 2026, sebanyak 52 persen pemilih mendukung proses pemakzulan, sementara 40 persen lainnya menyatakan menentang.

Sentimen negatif ini dipicu oleh kebijakan luar negeri Trump yang kontroversial, terutama keputusannya memicu konfrontasi militer dengan Iran yang dimulai sejak akhir Februari lalu.

Survei yang melibatkan 790 responden ini diprakarsai oleh kelompok advokasi progresif Impeach Trump Again dan Free Speech for People. Hasilnya menunjukkan satu dari tujuh pendukung Partai Republik kini berbalik mendukung pemakzulan.

"Ini adalah hasil yang belum pernah terjadi sebelumnya di awal masa jabatan presiden," kata John Bonifaz, salah satu pendiri Free Speech for People, dalam konferensi pers.

Data tersebut menunjukkan bahwa pemilih berpaling dari Trump jauh lebih cepat dibandingkan saat rakyat AS menentang Richard Nixon di masa lalu. Padahal, Trump sebelumnya sudah pernah menghadapi dua kali proses pemakzulan di masa jabatan pertamanya.

Kini, Trump harus menghadapi upaya pemakzulan terbaru dari sejumlah petinggi Kongres, khususnya dari fraksi Demokrat, sebagai respons atas ancaman genosida dan eskalasi perang terhadap Iran.

Salah satu tokoh yang paling vokal adalah Alexandria Ocasio-Cortez (AOC). Politikus Demokrat ini menegaskan bahwa pengumuman gencatan senjata sementara di Timur Tengah tidak menghapus urgensi pencopotan Trump.

"Presiden telah mengancam genosida terhadap rakyat Iran, dan terus menggunakan ancaman tersebut sebagai tekanan," ujar Ocasio-Cortez dalam unggahan di platform X, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera.

Ia menilai tindakan Trump telah menempatkan stabilitas dunia dan kesejahteraan domestik Amerika Serikat dalam risiko yang sangat besar.

"Kita tidak bisa lagi mempertaruhkan dunia maupun kesejahteraan negara kita. Baik melalui kabinet maupun Kongres, Presiden harus dicopot dari jabatannya. Kita sedang bermain di ambang kehancuran," tegasnya.

Sikap serupa juga ditunjukkan oleh puluhan legislator Demokrat lainnya. Mereka menegaskan bahwa pengumuman gencatan senjata tidak mengubah penilaian mereka bahwa Trump telah bertindak melampaui batas dan membahayakan keamanan global.