Yerusalem - Sebuah coretan provokatif bertuliskan "Holocaust di Gaza" muncul di Tembok Ratapan, salah satu situs paling suci bagi umat Yahudi di Yerusalem. Aksi vandalisme ini langsung memicu gelombang kemarahan dari para pemimpin agama hingga politisi Israel.
Coretan berbahasa Ibrani itu ditemukan pada bagian selatan Tembok Ratapan, yang berada di dalam kompleks suci Masjid Al-Aqsa di Kota Tua Yerusalem—wilayah yang dianeksasi Israel. Tak hanya di situ, pesan serupa juga muncul di dinding Sinagoge Agung dan beberapa lokasi lain di kota tersebut.
Kalimat "Ada holocaust di Gaza" merujuk pada kecaman terhadap perang Israel di Jalur Gaza. Istilah Holocaust sendiri mengingatkan pada pembunuhan enam juta Yahudi Eropa oleh rezim Nazi Jerman di bawah Adolf Hitler pada Perang Dunia II.
Rabbi Shmuel Rabinovitch, pengelola Tembok Ratapan, menyebut aksi ini sebagai “penodaan” terhadap tempat suci.
“Tempat suci bukanlah arena protes. Polisi harus menyelidiki, menangkap para pelaku, dan membawa mereka ke pengadilan,” ujarnya.
Kepolisian Israel mengonfirmasi penangkapan seorang pria berusia 27 tahun terkait insiden tersebut. Ia langsung diadili pada Senin (11/8), dan pihak kepolisian meminta penahanan diperpanjang.
Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir—yang dikenal kontroversial—mengaku terkejut dan berjanji polisi akan bertindak “secepat kilat”. Sementara Menteri Keuangan Bezalel Smotrich menilai pelaku “lupa apa artinya menjadi seorang Yahudi”.
Kecaman juga datang dari Benny Gantz, mantan Menteri Pertahanan yang kini menjadi pemimpin oposisi. Ia menyebut vandalisme itu sebagai “kejahatan terhadap seluruh bangsa Yahudi”.
Tembok Ratapan menjadi satu-satunya bagian yang tersisa dari kompleks Bait Suci Yahudi kuno. Berdasarkan perjanjian status quo yang berlaku puluhan tahun, umat Yahudi diperbolehkan berkunjung ke kompleks Al-Aqsa, tetapi tidak diizinkan berdoa di dalamnya.