BEIRUT – Militer Israel kembali meluncurkan serangkaian serangan udara besar-besaran ke wilayah Lebanon selatan pada Sabtu, 16 Mei 2026. Gempuran ini tetap terjadi meskipun kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan kelompok Hizbullah baru saja diperpanjang.

Dilansir AFP, Minggu, 17 Mei 2026, serangan udara masif tersebut didahului oleh perintah evakuasi paksa oleh militer Israel yang mencakup sembilan desa di Lebanon selatan. Israel berdalih operasi udara ini murni menargetkan infrastruktur dan posisi taktis milik militer Hizbullah.

Kantor Berita Nasional Lebanon, NNA, melaporkan pemboman tersebut menghantam lebih dari dua lusin desa. Salah satu titik serangan bahkan terdeteksi berada di wilayah yang berjarak lebih dari 50 kilometer (30 mil) dari garis perbatasan kedua negara. Akibat agresi terbaru ini, NNA mencatat terjadinya eksodus atau gelombang pengungsian baru warga sipil menuju kota Sidon di bagian selatan serta ibu kota Beirut.

Skeptisisme di Tengah Perpanjangan Gencatan Senjata

Rentetan bom yang terus jatuh ini memicu skeptisisme akut di kalangan ribuan warga Lebanon selatan yang telah terusir dari rumah mereka. Komitmen perdamaian dipertanyakan lantaran situasi di lapangan tidak mencerminkan adanya penghentian permusuhan.

Padahal, pada Jumat, 15 Mei 2026, kedua belah pihak baru saja sepakat untuk memperpanjang masa gencatan senjata selama 45 hari kedepan. Kesepakatan awal yang dimulai sejak 17 April 2026 tersebut memang terus rapuh dan diwarnai oleh banyak pelanggaran gencatan senjata dari kedua belah pihak.

Merespons dinamika ini, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan tetap menyambut baik keputusan perpanjangan gencatan senjata tersebut. Kendati demikian, ia mendesak dengan keras agar semua faksi yang bertikai menghormati kesepakatan penghentian permusuhan demi keselamatan warga sipil.

Hingga saat ini, fakta di lapangan menunjukkan militer Israel terus mempertahankan pendudukan pasukannya di sejumlah wilayah dekat perbatasan Lebanon serta melanjutkan serangan udara terukur.

Di sisi lain, Hizbullah tidak tinggal diam. Sayap militer kelompok tersebut secara teratur mengklaim telah meluncurkan serangan balasan ke wilayah Israel utara serta menargetkan posisi-posisi militer Israel yang berada di dalam teritorial Lebanon selatan, termasuk serangkaian operasi perlawanan yang mereka lancarkan pada Sabtu kemarin.