BEIRUT – Eskalasi serangan militer Israel ke wilayah Lebanon dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 2.089 warga sipil sejak awal Maret 2026.

Data terbaru yang dirilis Kementerian Kesehatan Lebanon pada Senin (13/4/2026) menunjukkan dampak kemanusiaan yang terus memburuk akibat gempuran tersebut.

Selain korban tewas, otoritas kesehatan Lebanon mencatat lonjakan jumlah korban luka yang sangat signifikan.

"Setidaknya 6.762 orang lainnya terluka akibat rangkaian serangan ini," ungkap pernyataan resmi Kementerian Kesehatan Lebanon sebagaimana dilansir dari Al Jazeera.

Hingga saat ini, militer Israel dilaporkan masih terus melancarkan serangan besar-besaran di berbagai titik strategis.

Dalam laporan tim lapangan satu jam terakhir, serangan udara Israel menyasar kota Sahmar yang terletak di Lembah Bekaa, wilayah timur Lebanon.

Tak hanya serangan udara konvensional, Israel juga mengerahkan pesawat tak berawak (drone) untuk menghantam sejumlah kota di wilayah selatan, di antaranya Hanawiya, Al-Shahabiya, dan Sayr al-Gharbiya.

Laporan terkini juga menyebutkan bahwa tentara Israel melakukan serangan artileri berat di kota Bint Jbeil, Lebanon selatan. Rentetan serangan di berbagai sektor ini telah memicu kekhawatiran internasional akan meluasnya zona konflik dan bertambahnya korban jiwa dari kalangan warga sipil yang tidak berdosa.