Jakarta - Pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite tidak mengalami kenaikan hingga akhir 2026. Jaminan tersebut diberikan di tengah ketegangan geopolitik yang masih terjadi di kawasan Timur Tengah.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah telah menyiapkan anggaran sebagai buffer sehingga harga Pertalite dapat dipertahankan hingga Desember 2026.

"Untuk Pertalite dijamin harga sampai bulan Desember aman, jadi ini sudah masuk dalam buffer," ujar Airlangga dalam konferensi pers di Kantor Kemenko bidang Ekonomi, Jakarta, Rabu (5/8/2026).

Saat ini harga Pertalite ditetapkan sebesar Rp 10.000/liter. Terakhir kali harga Pertalite naik adalah pada September tahun 2022, di mana harga Pertalite naik dari Rp 7.650/liter menjadi Rp 10.000/liter.

Airlangga menambahkan, Presiden Prabowo Subianto juga mengarahkan agar ketahanan energi nasional tetap dijaga di tengah ketidakpastian akibat konflik di kawasan Selat Hormuz. Konflik tersebut berpotensi mengganggu pasokan minyak dunia.

Airlangga menjelaskan salah satu langkah pemerintah untuk menjaga ketahanan energi adalah melalui penerapan program biodiesel B50. Kebijakan tersebut membuat Indonesia tidak lagi bergantung pada impor solar.

"Nah arahan Bapak Presiden juga di tengah ketidakpastian daripada perang di Selat Hormuz, BBM tetap kita jaga resiliensinya, di mana APBN sebagai shock absorber itu menjaga agar dengan diterapkannya B50 maka kita tidak lagi impor Solar. Dan sebetulnya dengan harga sekarang juga relatif pemanfaatan subsidi relatif kecil untuk B50," tutup Airlangga.