Banggainesia Membership Banggainesia.com+

Timur Tengah Memanas, Harga Pertamax Berpotensi Tembus Rp20 Ribu

Ketegangan di Selat Hormuz dongkrak harga minyak dunia hingga di atas 100 dolar AS per barel.

Saiful Yamin
Saiful Yamin - Banggainesia.com
Sabtu, 12 September 2026 | 19:15:14 WITA
Timur Tengah Memanas, Harga Pertamax Berpotensi Tembus Rp20 Ribu

Foto: Pengeboran Blok Rokan. (Dok: PT Pertamina Hulu Rokan)

Cilacap — Konflik geopolitik yang kian memanas di kawasan Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz, berdampak signifikan terhadap ketidakstabilan pasokan dan lonjakan harga energi serta minyak mentah dunia. Eskalasi militer yang tak kunjung mereda ini berpotensi besar memicu penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri.

Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, menilai situasi krisis energi saat ini jauh lebih pelik dan kompleks dibandingkan saat dinamika konflik Rusia-Ukraina melanda sebelumnya. Hingga kini, harga minyak dunia belum menunjukkan tanda-tanda stabil maupun penurunan secara signifikan.

"Katanya hari ini harga dunia, BBM juga sedang naik lagi. Jadi kalau berharap turun 70 dolar AS per barel atau 60 dolar AS per barel sebelum terjadinya krisis geopolitik, ya kita doakan mungkin semoga itu bisa terjadi dalam waktu segera," ujar Eko saat menghadiri acara Pertamax Journey di Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (11/9/2026).

Eko menjelaskan, apabila tren harga minyak global terus bertahan di level tinggi tanpa indikasi tren penurunan, harga produk BBM non-subsidi seperti Pertamax berpotensi mengalami penyesuaian harga yang cukup dramatis.

"Karena kalau tidak, kondisi ini akan berdampak seperti sekarang, harga Pertamax dan lain-lain itu akan berkisar antara di angka Rp18 ribu hingga Rp20 ribuan, karena belum ada indikasi terjadi penurunan harga minyak dunia," ungkap Eko.

Konflik militer yang kembali memanas antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi pendorong utama melambungnya harga komoditas energi global. Pada perdagangan Kamis, harga minyak dunia bahkan sempat menembus angka 108 dolar AS per barel—level tertinggi sejak Mei 2026.

Kenaikan tajam di atas 100 dolar AS per barel dipicu oleh pertempuran sengit yang meluas di Selat Hormuz dan Laut Merah. Selain aksi saling serang antara militer AS dan Iran, kelompok Houthi turut memperluas serangan ke wilayah Arab Saudi serta memicu ketegangan di Selat Bab al-Mandab.

Kondisi geopolitik yang tak pasti tersebut mendorong para pelaku pasar dan pedagang memborong minyak mentah dalam jumlah besar sebagai langkah antisipasi terhadap gangguan pasokan berkepanjangan, yang secara otomatis makin mengerek harga minyak mentah di pasar internasional.