Pemilihan kepala daerah di Kabupaten Banggai telah usai, namun hawa politik masih saja kuat terasa khususnya dikalangan aparatur sipil negara (ASN) yang bekerja dilingkup pemerintah daerah. Musabab ini tentu beralasan. Pasalnya, banyak pegawai tampak menonjol dan praktis turut campur tangan pada perhelatan pesta demokrasi.
Bupati Banggai terpilih Ir. Amirudin dalam beberapa kesempatan kerap melontarkan istilah ‘Saya bukan pendedam tapi pengingat yang baik’ dan peribahasa itu kini seolah menjadi momok bagi pegawai yang tidak netral semasa Pilkada berlangsung.
Tapi pada catatan perdana dalam rubrik ‘kupas tipis’ kali ini hanya mengangkat latar belakang dari keyakinan jika petahana Amirudin Tamoreka - Furqanuddin Masulili (ATFM) begitu dipercaya akan terjegal dan kalah pada Pilkada Banggai 2024.
Hal paling menarik dari Pilkada 2024/2025, yakni naiknya angka presepsi yang irasional dalam membaca peta peluang menang kalah masing-masing kandidat. Dimana banyak orang lebih mengandalkan delusi (waham) ketimbang sesuatu yang akademis.
Secara menohok, beberapa ASN yang berhasil ditemui Tim Kupas Tipis mereka sebelumnya menyebut misi 2 periode oleh petahana adalah mission impossible.
“Mustahil pak Amir (Amirudin-red) bisa menang, tidak ada sejarah bupati dua periode di Banggai ini,” kata Hasan yang merupakan pegawai dengan golongan aselon, Kamis (14/5).
Hasan bukan nama sebenarnya, sumber -- hasan yang meminta agar namanya disamarkan termasuk tempat berkantor membeberkan alasan demi alasan. Sehingga kemudian, Hasan memilih dan ikut berpartisipasi mendorong sanak keluarga untuk mencoblos paslon yang bukan mantan bupati.
“Pak Herwin dan pak AT, sudah pernah jadi bupati. Daripada suara jadi mitos maka kita sudah yakin pasangan Bu Anti – Obama yang akan menang,” akku Hasan.
Tidak hanya dirinya, sumber yang lain juga memberikan pandangan yang sama. Sumber anonim lainnya menjelaskan padangan politiknya, ”Saya dan teman-teman kantor sering mendiskusikan pilkada. Dengan melihat kampanye massif Anti-Bali baik dimedsos kami separuh percaya bahwa petahana bisa kalah. Tapi keyakinan kami jadi kuat ketika belum ada sejarah pemimpin 2 periode jikapun ad aitu hanya mitos. Ya mitos anggapan kebanyakan,” ungkap sumber, Jumat (15/5).
Dari ungkapan ‘mitos’ yang sebenarnya mengandung penafsiran tentang asal-usul serta mengandung arti sesuatu yang hanya bisa diungkap secara gaib, maka pada Pilkada Banggai istilah mitos telah memberikan penafsiran sendiri jika kepempinan dua periode adalah sesuatu yang gaib atau tak nyata.
Merasa ATFM mustahil terpilih Kembali, maka kemenangan jumlah suara pada pasangan ini juga dianggap seolah tak masuk akal. Kepada beberapa sumber lainnya, mereka-pun memiliki alasan yang sama seperti halnya Hasan dan sumber anonim lainnya.
“Jadi memang ini so tidak realistis, kenapa juga kami terlalu percaya dengan mitos-mitos itu. Yah, ada yang salah seolah kita-kita ini telah mendaulati Tuhan,” ujar rekan sumber sebelumnya. “Dari kejadian itu akhirnya kita yang semula netral akhirnya ikut-ikut pada ruang yang sebenarnya tidak dibolehkan oleh negara,” tutupnya.