Yerusalem – Menteri Keuangan Israel dari sayap kanan, Bezalel Smotrich, menyatakan bahwa kelompok Hamas kemungkinan besar akan segera diberi tenggat waktu atau ultimatum untuk melucuti senjata dan melakukan demiliterisasi total di Jalur Gaza. Jika kesepakatan itu ditolak, Smotrich mengancam militer Israel (IDF) akan bergerak menduduki seluruh wilayah kantong tersebut.
"Kami memperkirakan bahwa dalam beberapa hari mendatang, Hamas akan diberi ultimatum untuk melucuti senjata dan sepenuhnya melakukan demiliterisasi Gaza," ujar Smotrich dalam wawancara dengan penyiar publik Kan, seperti dilansir AFP, Selasa, 24 Februari 2026.
Smotrich, yang juga merupakan anggota kabinet keamanan Israel, menegaskan bahwa jika Hamas tidak mematuhi peringatan tersebut, IDF telah menyiapkan rencana operasi militer skala besar. Menurutnya, langkah pendudukan total ini telah mengantongi lampu hijau dari sekutu utama mereka.
"IDF akan memiliki legitimasi internasional dan dukungan Amerika untuk melakukannya sendiri. IDF sudah mempersiapkan hal ini dan sedang membuat rencana," katanya menambahkan.
Ancaman ini muncul di tengah proses gencatan senjata yang disponsori Amerika Serikat. Pada fase pertama, tentara Israel dilaporkan telah mundur ke posisi di belakang "Garis Kuning", meski saat ini mereka masih mengendalikan lebih dari separuh wilayah Gaza.
Fase kedua, yang secara resmi dimulai bulan lalu, sebenarnya mengamanatkan penarikan bertahap tentara Israel berbarengan dengan pelucutan senjata Hamas. Namun, kelompok militan tersebut menyatakan penolakan keras terhadap poin demiliterisasi.
"Militer Israel pasti akan memasuki dan menduduki Gaza jika Hamas tidak bubar," tegas Smotrich. Ia menyebut saat ini pemerintah Israel sedang mempertimbangkan dua hingga tiga alternatif cara untuk melakukan pendudukan tersebut.
Rencana perdamaian yang diajukan Presiden AS Donald Trump sebelumnya juga mencakup pembentukan Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) berkekuatan 20.000 personel. Beberapa negara telah menyatakan komitmen untuk bergabung dalam pasukan penjaga perdamaian tersebut.
Namun, kehadiran tentara asing tampaknya tidak menyurutkan niat Israel untuk merangsek masuk jika Hamas tetap bertahan. Smotrich mengklaim bahwa pergerakan IDF nantinya telah dikoordinasikan dengan pihak Amerika Serikat, sehingga tidak akan berbenturan dengan keberadaan ISF di lapangan.
Meski demikian, Smotrich sempat melontarkan nada skeptis terkait realisasi pasukan internasional tersebut. "Ngomong-ngomong, saya belum melihat mereka (ISF) masuk secepat itu," pungkasnya.