BATUI – Hanya sekitar 15 meter dari jalan utama di Kelurahan Sisipan, Kecamatan Batui, berdiri bangunan yang nyaris tak layak disebut rumah. Dinding papan sudah menghitam, rapuh, dan bolong di banyak sisi. Atap rumbia sobek dan berlubang di puluhan titik, sehingga bagian yang paling parah hanya ditutup tambal sulam dengan lembaran terpal. Tiang penyangganya pun mulai miring, seolah kapan saja bisa runtuh menimpa siapa saja yang ada di dalamnya.

Di sinilah Ite (58 tahun) memikul seluruh beban hidup sendirian.

 Sejak suaminya, Suadi, meninggal dunia, dialah kepala keluarga sekaligus pelindung bagi empat anak dan tiga cucu yang tinggal bersamanya. Untuk menambal kebutuhan sehari-hari, Ite bekerja sebagai buruh serabutan: dari mencuci pakaian, menjadi tenaga kebersihan, hingga pekerjaan apa saja yang bisa dijalani sesuai kemampuan tenaganya.

Beban itu makin berat sejak dua tahun silam, ketika anak yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga tiba-tiba kehilangan pendengaran akibat penyakit radang telinga yang dideritanya.

Sejak saat itu, sumber penghasilan utama pun terhenti sepenuhnya, dan seluruh beban menumpuk di pundak Ite yang sudah tak lagi muda.

Meski kediamannya hanya berjarak 15 meter dari jalan yang dilalui orang setiap hari, keterasingan mereka terasa begitu dalam. Ite mengaku bahkan tak mengenal siapa kepala RT di lingkungannya sendiri.

Bertahun-tahun tak ada petugas yang datang, tak ada informasi soal hak warga, seolah mereka tak tercatat di wilayah tempat mereka tinggal puluhan tahun.

Hingga akhirnya kisah mereka terungkap ke publik lewat pemberitaan media.

"Baru setelah diliput, ada yang datang membawa beras sekitar 30 kilogram. Sebelumnya, sekadar ditanya kabar pun tidak ada," ujar Ite dengan suara parau saat ditemui tim banggainesia.com.

Matanya beralih ke dinding yang goyah dan terpal yang berkibar tertiup angin.

"Kami bersyukur perut terisi, tapi hati tak tenang. Kalau hujan deras, terpal itu tak cukup menahan air. Kami harus lari berteduh ke rumah tetangga. Takut papan atau atap ini rubuh menimpa anak dan cucu."

Kehadiran beras itu memang meringankan beban sementara, namun tak menyentuh ancaman nyata yang mengintai nyawa mereka.

Kerabat dekatnya, Hasmia, menegaskan bahwa permohonan mereka bukan sekadar meminta-minta, melainkan karena terpaksa keadaan yang sudah tak sanggup lagi dihadapi sendiri.

"Andai kami dan mereka punya kecukupan, kami tidak akan membutuhkan ulur tangan pemerintah," ujar Hasmia dengan suara bergetar.

"Memang benar ada bantuan beras itu setelah kisah ini diketahui orang banyak. Tapi coba lihat rumah ini—hanya ditambal terpal. Ini bukan sekadar kurang nyaman, ini berbahaya. Belum ada satu pun janji atau tindakan untuk memperbaiki tempat tinggal mereka. Belum ada bantuan bedah rumah yang menyentuh keluarga ini."

Hanya 15 meter dari jalan raya, namun dunia seolah berjarak ribuan kilometer bagi Ite dan keluarganya. Mereka menanti: kapan jarak yang memisahkan mereka dari pertolongan yang layak akhirnya akan tertutup?