BATUI – Di balik nama Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, tersimpan jejak ingatan sejarah yang tak pernah putus. Bukan sekadar penanda wilayah di peta, kata "Batui" sejatinya lahir dari sebuah falsafah hidup yang mendalam.

Akar kata "Batui" berasal dari bahasa lokal, yaitu "Batuki" atau "Mombatuki". Artinya sangat sederhana namun memiliki daya ikat moral yang kuat bagi masyarakatnya: mengikuti.

Lebih dalam lagi, para leluhur di tanah ini telah mewariskan sebuah pesan utuh dalam ungkapan luhur: "Batuki Anu Kopian". Sebuah kalimat sakral yang bermakna "ikutlah segala hal yang baik."

Bermula dari Perbukitan Seseba

Jauh sebelum masyarakat membangun pemukiman di sepanjang garis pesisir seperti yang terlihat saat ini, roda peradaban Batui sebenarnya bermula di dataran tinggi.

Nenek moyang mereka pertama kali membangun kehidupan kelompok di kawasan perbukitan Seseba. Di bukit itulah tercatat setidaknya ada empat kampung tua yang menjadi saksi bisu awal mula kehidupan komunal di tanah ini. Dari atas bukit Seseba itulah, langkah untuk "mengikuti" arah peradaban dimulai.

Titik Temu dengan Ajaran Islam

Seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai turun dari perbukitan. Ketika ajaran Islam tiba di tanah ini, pesan lama para leluhur tentang "mengikuti" itu pun menemukan makna sejatinya.

Risalah Islam tersebut dibawa oleh seorang ulama karismatik bernama Syekh Nuru Safa, yang oleh masyarakat setempat juga akrab dikenal dengan gelar Langkai Tudun.

Masyarakat menyambut baik kehadiran sang ulama beserta syiar yang dibawanya. Tanpa paksaan, mereka memilih untuk bersatu dan mombatuki—mengikuti—jalan kebaikan serta kedamaian yang diajarkan oleh beliau. Dari semangat spiritual inilah, nama pemukiman yang terus berkembang dan berpindah ini akhirnya menetap dengan nama Batui.

Makam Mian Bungin Jadi Saksi Bisu

Bukti otentik dari perjalanan panjang penyebaran kebaikan itu pun masih terjaga kelestariannya hingga kini.

Para guru mengaji dan pendakwah masa awal, yang dahulu menyusuri derasnya perairan Batui hanya dengan menggunakan rakit, dimakamkan di sebuah kawasan yang letaknya tidak jauh dari bibir pantai. Situs bersejarah itu kini dikenal luas oleh masyarakat dengan sebutan Makam Mian Bungin.

Kini, nama Batui telah melintasi ruang dan waktu. Bagi generasi modern yang mendiaminya, Batui bukan lagi sekadar nama tempat lahir atau domisili. Ia adalah sebuah janji hidup yang dijalani secara turun-temurun untuk selalu berjalan di atas jejak luhur para leluhur, dan senantiasa memilih jalan kebaikan.