BATUI – Kalau Anda berkunjung ke Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, dan mengobrol dengan para tetua di sana, jangan heran jika mereka jarang menggunakan kata "radio". Hingga era 1980-an, masyarakat setempat justru lebih akrab menyebut alat penangkap sinyal suara tersebut dengan sebutan "Nirom".

"Tolong dulu nyalakan itu Nirom," atau "Ada berita apa di Nirom hari ini?" Kalimat-kalimat seperti itu jamak terdengar di telinga warga Batui tempo dulu.

Bukan sekadar bahasa gaul lokal atau sebutan tanpa makna, istilah "Nirom" ternyata menyimpan rekam jejak sejarah yang panjang. Istilah ini menjadi benang merah yang menghubungkan ingatan kolektif warga Batui dengan masa kolonialisme Belanda di bumi Nusantara.

Warisan Suara dari Zaman Kompeni

Berdasarkan penuturan para sesepuh setempat, lahirnya sebutan "Nirom" bermula dari keterbatasan akses informasi pada masa penjajahan. Kala itu, gelombang udara Batui sangat sepi dari siaran berbahasa Indonesia.

Satu-satunya suara yang bisa ditangkap dengan jelas oleh perangkat kotak kayu mereka adalah siaran resmi milik pemerintah Hindia Belanda.

"Dulu di sini belum ada siaran dalam bahasa Indonesia. Satu-satunya siaran yang bisa kami tangkap dengan jelas adalah siaran dari Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschappij, disingkat NIROM," ungkap Amin, salah satu sesepuh warga Batui, Selasa (7/7/2026).

NIROM sendiri merupakan maskapai siaran resmi Hindia Belanda yang mengudara sejak tahun 1928. Karena jaringan pemancarnya menguasai udara Nusantara dan menjadi satu-satunya sumber informasi, warga Batui akhirnya mengalami fenomena salah kaprah yang mengakar (metonimia). Merek atau nama lembaga penyiaran tersebut bertransformasi menjadi kata benda umum untuk menyebut alat fisiknya: radio.

Melekat Kuat di Masa Pergolakan Permesta

Saking melekatnya, sebutan "Nirom" tidak luntur begitu saja ketika Belanda angkat kaki dari Indonesia. Istilah ini justru semakin populer dan menemukan urgensinya saat daerah tersebut diguncang pergolakan gerilyawan Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) pada rentang tahun 1957–1961.

Di tengah situasi perang yang penuh ketidakpastian dan mencekam, warga Batui sangat bergantung pada radio untuk memantau pergerakan pasukan dan situasi keamanan.

Menariknya, meskipun saat itu kendali siaran udara sudah beralih ke tangan Radio Republik Indonesia (RRI)—bahkan sempat dicaplok oleh kubu Permesta—lidah masyarakat Batui telanjur kaku. Bagi mereka, alat kotak bersuara itu tetaplah bernama "Nirom".

Warisan Tradisi Lisan yang Meredup

Kebiasaan ini terus dirawat secara turun-temurun dari kuping ke kuping, dari orang tua kepada anak cucu mereka.

"Kata itu terus diwariskan ke anak cucu, meskipun siaran Belanda sudah lama hilang dan sekarang sudah banyak stasiun radio lokal maupun nasional," tambah Lutfi, warga Batui lainnya.

Kini, seiring masuknya era digital dan smartphone, sebutan "Nirom" perlahan mulai meredup dan hanya tersimpan dalam memori generasi tua. Namun, kisah ini tetap menjadi catatan menarik bagaimana sebuah singkatan korporasi kolonial bisa abadi menjadi bagian dari identitas kultural dan bahasa lokal di pesisir Banggai.