POSO – Suasana ibadah Minggu pagi di Gereja Elim, Desa Masani, Kecamatan Poso Pesisir, mendadak berubah mencekam. Baru saja jemaat menaikkan pujian, gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 6,0 mengguncang Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Minggu (17/8/2025) pukul 06.38 Wita.
Guncangan keras membuat dinding dan atap gereja tak kuasa bertahan. Dalam hitungan detik, bangunan itu ambruk. Jemaat berlarian menyelamatkan diri, namun 10 orang tertimpa reruntuhan. “Dari hasil monitoring, Gereja Elim di Desa Masani rusak berat dan rubuh,” ujar Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Sulteng, Andi Sembiring, kepada wartawan.
Tim darurat bersama warga segera mengevakuasi korban. Mereka yang luka dilarikan ke Puskesmas Tokorondo untuk mendapatkan perawatan. Di tengah kepanikan, doa dan jerit minta tolong bersahut-sahutan, menambah pilu suasana pagi itu.
Tak hanya gereja, guncangan gempa juga merusak satu rumah warga di Desa Lape. Sebuah bangunan sarang burung walet di Desa Ueralulu ikut terdampak. “Saat ini masih dalam penanganan,” kata Andi.
Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), episenter gempa berada di laut, 13 kilometer barat laut Kota Poso, pada kedalaman 10 kilometer. Gempa ini dikategorikan dangkal, akibat aktivitas Sesar Tokoraru. “Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami,” jelas Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono.
Meski demikian, getaran gempa dirasakan cukup kuat di sejumlah wilayah lain, termasuk sebagian Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Warga yang merasakan guncangan berhamburan keluar rumah, memilih bertahan di ruang terbuka hingga situasi dirasa aman.
Seiring siang menjelang, aparat bersama tim BPBD masih melakukan pendataan. Sementara jemaat Gereja Elim yang selamat memilih bertahan di sekitar lokasi, sebagian masih shock melihat rumah ibadah mereka luluh lantak. Bagi mereka, Minggu pagi yang mestinya menjadi hari damai berubah menjadi ujian penuh duka.