Tumpe selalu datang dengan janji keabadian. Setiap prosesi digelar, publik diyakinkan bahwa persaudaraan masih utuh, adat tetap berdiri, dan sejarah tidak terputus. Namun seperti kebanyakan tradisi lain di Indonesia, Tumpe kini berada di titik rawan: dirayakan, tetapi belum tentu dipahami.
Di hadapan modernisasi yang bergerak cepat, Tumpe seakan melambat—bahkan tersendat. Generasi muda mengenalnya sebagai ritual tahunan, bukan sebagai nilai hidup. Yang tersisa sering kali hanyalah barisan adat, busana tradisional, dan narasi singkat tentang telur burung maleo yang diantar sebagai simbol persaudaraan. Setelah itu, semua kembali ke rutinitas.
Di situlah persoalan bermula.
Tradisi pada dasarnya bukan benda mati. Ia hidup karena diyakini, dipraktikkan, dan diperdebatkan. Ketika Tumpe direduksi menjadi seremoni, ia kehilangan daya tawarnya sebagai penanda moral dan sosial. Padahal di dalamnya tersimpan gagasan besar: hubungan kekerabatan lintas wilayah, kewajiban antargenerasi, hingga kesadaran menjaga alam.
Ironisnya, justru nilai terakhir itulah yang kerap diabaikan. Tumpe tak bisa dilepaskan dari burung maleo dan ruang hidupnya. Namun kerusakan lingkungan, alih fungsi lahan, dan eksploitasi sumber daya terus berlangsung. Tradisi tetap dipentaskan, sementara ekologi yang menjadi fondasinya terus terkikis. Di titik ini, Tumpe berisiko menjadi simbol yang tak lagi berpijak pada realitas.
Modernisasi sering dituduh sebagai penyebab punahnya tradisi. Tuduhan itu tidak sepenuhnya benar. Yang lebih berbahaya adalah modernisasi tanpa kesadaran budaya. Tanpa pembaruan cara pandang, Tumpe akan terjebak dalam dua ekstrem: ditinggalkan karena dianggap usang, atau dipelihara sebatas ornamen pariwisata.
Lebih problematis lagi, pelestarian Tumpe kerap dibebankan semata kepada masyarakat adat. Negara dan pemerintah daerah hadir sebatas fasilitator acara, bukan penjaga nilai. Padahal pembangunan yang dijalankan kerap berseberangan dengan pesan adat itu sendiri. Tradisi diminta bertahan, sementara ruang hidupnya dipersempit.
Pertanyaan yang layak diajukan bukan lagi apakah Tumpe masih bertahan, tetapi bagaimana ia bertahan dan untuk siapa. Jika Tumpe hanya hidup sehari dalam setahun, lalu menghilang dalam kebijakan, kurikulum, dan perilaku sehari-hari, maka cepat atau lambat ia akan kehilangan makna.
Tumpe tidak membutuhkan kekaguman berlebihan. Ia membutuhkan kejujuran. Kejujuran untuk mengakui bahwa melestarikan tradisi tidak cukup dengan mengulang prosesi, tetapi harus disertai keberanian menyesuaikan nilai leluhur dengan tantangan zaman.
Jika tidak, Tumpe mungkin akan tetap digelar. Namun ia hanya akan menjadi jejak masa lalu yang dipamerkan—bukan panduan hidup yang diwariskan.
Dan tradisi yang hanya dipamerkan, pada akhirnya, sedang menunggu giliran untuk dilupakan.