Di tanah timur Sulawesi Tengah, masyarakat Banggai memiliki sebuah tradisi yang dirawat ratusan tahun tanpa pernah putus oleh zaman. Tradisi itu bernama Tumpe—sebuah ritual adat yang menjadi penanda kuat hubungan persaudaraan antarkelompok masyarakat Banggai.
Tumpe bukan sekadar upacara seremonial. Di balik prosesi yang khidmat, tersimpan cerita sejarah, nilai kebersamaan, serta penghormatan terhadap alam. Tradisi ini kerap disebut pula sebagai Molabot Tumpe, merujuk pada prosesi pengantaran telur burung maleo dari Batui, Kabupaten Banggai, menuju Keraton Banggai di Banggai Laut.
Dalam pandangan masyarakat setempat, telur maleo memiliki makna simbolik yang mendalam. Burung maleo merupakan satwa endemik Sulawesi yang dikenal setia pada tempat bertelurnya. Ketika telur-telur itu diantar dalam prosesi Tumpe, ia menjadi lambang kesetiaan, amanah, dan ikatan keluarga yang tidak boleh terputus meski terpisah wilayah.
Tradisi Tumpe berakar dari sejarah Kerajaan Banggai, ketika hubungan kekeluargaan antara Batui dan Banggai dibangun melalui peristiwa-peristiwa penting di masa kerajaan. Sejak itu, Tumpe dijalankan secara turun-temurun sebagai pengingat bahwa persaudaraan harus dijaga dengan tindakan nyata, bukan sekadar dikenang.

Prosesi Tumpe biasanya melibatkan masyarakat adat dengan mengenakan busana tradisional, membawa perlengkapan adat, serta iringan doa-doa. Suasana sakral berpadu dengan nuansa kebersamaan. Warga berkumpul, berbagi cerita, dan menyambut ritual sebagai momen mempererat hubungan sosial.
Bagi masyarakat Banggai, Tumpe juga merupakan bentuk kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan dengan alam. Maleo dihormati, tidak dieksploitasi, dan penyerahan telur dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Nilai ini sejalan dengan upaya pelestarian satwa endemik dan lingkungan hidup.
Kini, Tradisi Tumpe tidak hanya menjadi identitas budaya, tetapi juga daya tarik wisata budaya. Wisatawan yang datang dapat mengenal langsung sejarah Banggai, menyaksikan ritual adat, serta memahami filosofi hidup masyarakat setempat yang menjunjung tinggi persaudaraan dan keberlanjutan.
Tumpe mengajarkan satu hal sederhana namun mendalam: ikatan keluarga, sejarah, dan alam adalah warisan yang harus dijaga bersama. Selama tradisi ini terus dijalankan, selama itu pula cerita persaudaraan masyarakat Banggai akan tetap hidup, menembus generasi demi generasi.