Dikutip dari Al Jazeera,
Jumat (26/6/2026),. Laporan serangan ini pertama kali diterima oleh
United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO). Kapal tersebut
melaporkan terkena proyektil di sisi kanan lambungnya sekitar 14 km (7,5
mil laut) di sebelah tenggara pelabuhan Dahit, Oman, tambah badan
angkatan laut Inggris. Sumber keamanan maritim lainnya mengatakan
bahwa kapal tersebut kemungkinan besar menjadi sasaran drone, meski
belum jelas siapa yang melakukan serangan tersebut. Dalam laporan keamanan maritim itu, kapal yang terkena serangan
tersebut diidentifikasikan sebagai kapal kontainer berbendera
Singapura, Ever Lovely. Dalam hal ini kapal diperkirakan berlayar
sendiri karena tidak beroperasi di bawah kerangka evakuasi IMO. Masalahnya
laporan terkait serangan kapal tersebut muncul hanya beberapa jam
setelah Iran memerintahkan kapal-kapal untuk berhenti menggunakan rute
melalui selat tersebut tanpa izin dari Teheran. "Korps Garda
Revolusi Islam Iran (IRGC) memerintahkan dua kapal berbendera Panama
untuk mengubah haluan pada Kamis pagi," jelas Al Jazeera menurut
keterangan perusahaan keamanan maritim Inggris, Ambrey. Setelah
insiden tersebut, Otoritas Selat Teluk Persia (PGSA) yang dibentuk oleh
Iran untuk mengelola Selat Hormuz, menyebut jika transit di luar rute
yang telah ditentukan tidak akan tercakup dalam jaminan jalur aman.
Mengindikasikan bahwa kapal-kapal itu bisa terkena serangan Teheran
sewaktu-waktu. "Konsekuensi yang timbul akibat melewati jalur yang
tidak sah menjadi tanggung jawab pemilik, operator, dan komandan
kapal," tambah PGSA pada X. Sejak Selasa
(23/6) kemarin, Organisasi Maritim Internasional (IMO) yang berada di
bawah naungan PBB memulai inisiatif untuk mengevakuasi 600 kapal dan
sekitar 11.000 pelaut yang terdampar akibat penutupan Selat Hormuz
selama perang Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran. Badan
keamanan perairan yang di bawah naungan PBB itu membantu mereka untuk
segera meninggalkan kawasan Teluk melalui dua jalur, yakni melalui
perairan Iran dan yang lainnya melalui perairan Oman dengan pengawasan
AS. Pada Kamis (25/6) kemarin, kepala IMO mengatakan rencana untuk
memindahkan kapal-kapal yang terdampar keluar dari Teluk akan ditunda,
seiring laporan serangan terhadap kapal berbendera Singapura. "Saya
telah memutuskan untuk menunda sementara pelaksanaan (rencana evakuasi)
guna menegaskan kembali bahwa jaminan keselamatan yang diperlukan tetap
berlaku untuk kapal-kapal dalam daftar evakuasi kami dan semua kapal di
wilayah tersebut," kata Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez dalam
sebuah pernyataan. IMO menegaskan evakuasi kapal dan kargo yang
tertahan di Selat Hormuz akan dilanjutkan kembali jika situasi
dipastikan aman. Sehingga untuk saat ini mereka akan melakukan
verifikasi kondisi untuk navigasi yang aman sebelum rencana tersebut
dimulai kembali.
Polisi berhasil mengamankan sejumlah barang bukti atas penangkapan pelaku