Banggainesia Membership Banggainesia.com+
HEADLINE

AS Hancurkan Tanker Iran, Picu Harga Minyak dan Perang Milisi

Saling serang Washington-Teheran makin tajam di tengah blokade Selat Hormuz dan perluasan serangan milisi regional.

Saiful Yamin
Saiful Yamin - Banggainesia.com
Kamis, 10 September 2026 | 03:23:13 WITA
AS Hancurkan Tanker Iran, Picu Harga Minyak dan Perang Milisi

Jet tempur AS lepas landas dari kapal induk USS Abraham Lincoln saat perang melawan Iran berkecamuk (dok. via REUTERS/US Navy)

Washington — Militer Amerika Serikat (AS) melalui Komando Pusat (CENTCOM) menghancurkan lima kapal tanker minyak mentah milik Iran sebagai respons atas serangan dua rudal balistik Garda Revolusi Iran terhadap kapal perang AS.

Empat kapal—Kivik, Charminar, Horizon 1, dan Riesco—dihancurkan di Teluk Oman, sedangkan kapal Derya diserang di dekat Pulau Kharg, Selat Hormuz. CENTCOM menyatakan telah memerintahkan seluruh awak untuk meninggalkan kapal sebelum serangan dilancarkan.

Eskalasi ini melanjutkan aksi saling serang kedua negara. Tiga hari sebelumnya, pasukan AS juga menenggelamkan tiga kapal tanker Iran yang dituduh mencoba menyerang kapal induk dan kapal perusak AS. Media pemerintah Iran melaporkan balasan berupa peluncuran rudal ke sasaran AS di Yordania, meski CENTCOM mengaku belum memiliki informasi terkait insiden tersebut.

Di sektor ekonomi, pemerintahan Presiden Donald Trump memperketat sanksi dengan menyasar lebih dari dua lusin maskapai komersial, swasta, dan penyedia jasa kargo asing.

"Ini menjadi peringatan bagi siapa pun yang berbisnis dengan maskapai Iran yang tersisa: Anda berisiko dikeluarkan dari sistem keuangan global," tegas Menteri Keuangan AS Scott Bessent.

Konflik yang menutup Selat Hormuz—jalur perdagangan seperlima minyak dunia—telah memicu lonjakan harga minyak mentah Brent hingga mencapai 99,46 dolar AS per barel pada Selasa, 8 September 2026. Kenaikan harga energi ini menjadi tekanan politik tersendiri bagi kubu Trump jelang pemilu paruh waktu November mendatang.

FOTO: Tampak dari udara dampak serangan ke kilang Iran

Milisi Regional Perluas Medan Pertempuran

Konflik kian kompleks dengan keterlibatan kelompok penyokong Iran di kawasan. Kelompok Houthi di Yaman dilaporkan bekerja sama dengan milisi Irak untuk melancarkan serangan drone selama dua hari ke wilayah Arab Saudi.

Merespons serangan itu, pasukan gabungan AS dan Arab Saudi menggelar operasi udara yang menewaskan sedikitnya 20 anggota milisi Irak, enam penasihat Iran, dan seorang pejabat Houthi. Meski demikian, pihak Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) Irak membantah keterlibatan mereka maupun keberadaan Houthi di bawah naungan struktur mereka.

Ancaman terhadap pasokan energi global makin nyata usai Houthi mendeklarasikan blokade pelayaran Saudi di Laut Merah dan melancarkan belasan serangan ke fasilitas minyak serta kapal tanker sejak akhir Juli. Serangan terbaru pada Selasa, 8 September 2026, di selatan Arab Saudi bahkan mengakibatkan lebih dari 70 orang terluka.

Imbas blokade di Selat Hormuz dan Laut Merah, Arab Saudi terpaksa mengalihkan rute pengiriman minyaknya ke arah utara melalui Terusan Suez dan pipa SUMED di Mesir. Data Kpler mencatat lonjakan aliran minyak di jalur alternatif tersebut dari 650.000 barel per hari pada Juni menjadi lebih dari 1,9 juta barel per hari pada Agustus.


Advertisement
Advertisement