More news:
Anak-Anak Gaza Mati karena Lapar
banggainesia.com / Dunia

Anak-Anak Gaza Mati karena Lapar

Dalam Tiga Hari, 21 Anak Tewas Akibat Malnutrisi. Rumah Sakit Kewalahan, Dunia Mendesak Perang Dihentikan

Share :

GAZA — Tangisan anak-anak di Gaza
kini perlahan mereda. Bukan karena mereka tenang, tapi karena kehabisan tenaga.
Dalam 72 jam terakhir, sedikitnya 21 anak meninggal dunia akibat kelaparan dan
malnutrisi parah, menyusul krisis kemanusiaan yang terus memburuk di wilayah
Palestina itu.

Data memilukan itu diungkapkan Kepala
Rumah Sakit Al-Shifa, Mohammed Abu Salmiya, dalam keterangannya kepada media,
Selasa (22/7/2025), dilansir AFP. Ia menyebutkan, kematian terjadi di beberapa
rumah sakit besar yang masih beroperasi di Gaza, termasuk RS Al-Shifa di Kota
Gaza, RS Syuhada Al-Aqsa di Deir el-Balah, dan RS Nasser di Khan Yunis.

“Kita sedang menuju angka kematian yang
mengkhawatirkan akibat kelaparan yang menimpa rakyat Gaza,” ujarnya dengan nada
cemas.

Situasi di lapangan semakin genting. Rumah
sakit yang masih berdiri pun terus dibanjiri kasus baru malnutrisi, baik pada
anak-anak maupun dewasa. Pasokan makanan, obat-obatan, dan air bersih sangat
terbatas.

Blokade Membunuh dalam Diam

Sejak gencatan senjata enam minggu gagal
diperpanjang, Israel memberlakukan blokade penuh terhadap Gaza pada 2 Maret
2025. Tak ada makanan, obat, atau bantuan kemanusiaan yang diizinkan masuk.
Truk bantuan baru bisa kembali masuk secara terbatas pada akhir Mei. Namun,
stok bantuan yang sebelumnya menumpuk saat gencatan senjata, kini telah habis.

Lebih dari dua juta penduduk Gaza kini
hidup dalam krisis pangan paling buruk sejak perang dimulai pada Oktober 2023.
Bahkan Direktur Program Pangan Dunia (WFP), Carl Skau, yang berkunjung ke Gaza
awal Juli, menyebut situasi saat ini sebagai yang “terburuk yang pernah
dilihatnya.”

Minggu lalu, badan pertahanan sipil Gaza
melaporkan tiga bayi meninggal dunia akibat kelaparan dalam sepekan. Dan angka
itu terus bertambah.

Desakan Global Kian Menguat

Tekanan internasional untuk menghentikan
perang dan membuka jalur bantuan terus menguat. Puluhan negara, termasuk sekutu
utama Israel seperti Inggris, Prancis, Australia, dan Kanada, telah mendesak
gencatan senjata permanen, pembebasan sandera, serta dibukanya akses bantuan
kemanusiaan tanpa syarat.

Namun, seruan global belum cukup menggugah
perubahan nyata di medan perang.

Sementara itu, anak-anak Gaza — yang
seharusnya bermain dan belajar — satu per satu meregang nyawa dalam diam.
Mereka tidak mati karena peluru atau bom, tetapi karena perut kosong yang tak
kunjung terisi.